3 mins read

1.882 Napi Dipindahkan ke Nusakambangan

Ditjen PAS Pindahkan 1.882 Napi ke Nusakambangan demi Kondisi Lapas dan  Rutan yang Semakin Kondusif - Jawa Pos

Cilacap (INITOGEL)—Pagi itu, pelabuhan kecil di pesisir selatan Jawa bergerak lebih sibuk dari biasanya. Satu per satu kendaraan pengangkut narapidana tiba, dikawal ketat aparat. Di balik teralis dan kaca buram, 1.882 warga binaan pemasyarakatan menjalani perjalanan sunyi menuju Nusakambangan—pulau yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol penegakan hukum paling tegas di Indonesia.

Pemindahan besar-besaran ini bukan sekadar urusan teknis pemasyarakatan. Ia menyimpan cerita tentang keamanan, pembinaan, dan wajah lain dari sistem hukum yang jarang terlihat publik.

Operasi Senyap dan Terukur

Pemindahan dilakukan secara bertahap, dengan pengamanan berlapis. Aparat memastikan proses berjalan tertib, tanpa kegaduhan. Tidak ada sorak, tidak pula keributan—hanya instruksi singkat dan langkah-langkah teratur.

Sebagian besar napi yang dipindahkan berasal dari berbagai lembaga pemasyarakatan di sejumlah daerah, dengan latar belakang kasus yang beragam. Nusakambangan dipilih karena tingkat keamanannya yang tinggi serta fasilitas pembinaan khusus yang dinilai lebih memadai untuk kategori narapidana tertentu.

“Ini langkah strategis untuk menjaga stabilitas dan keamanan lapas,” ujar seorang petugas pemasyarakatan di lokasi. Baginya, pemindahan ini adalah bagian dari rutinitas negara dalam memastikan sistem berjalan sesuai koridor.

Nusakambangan: Lebih dari Sekadar Penjara

Di mata publik, Nusakambangan kerap identik dengan hukuman berat dan pengawasan ketat. Namun bagi petugas dan warga binaan, pulau ini juga merupakan ruang pembinaan—tempat rutinitas dijalani dengan disiplin tinggi.

Di balik tembok tebal dan kawat berduri, hari-hari diisi dengan jadwal yang teratur: bangun pagi, kegiatan kerja, ibadah, hingga pembinaan keterampilan. Tidak semua orang melihat sisi ini, tetapi di sanalah upaya negara menyeimbangkan keamanan dan rehabilitasi dijalankan.

Seorang mantan warga binaan pernah mengatakan, “Di Nusakambangan, waktu terasa lambat. Tapi justru di situ kita dipaksa bercermin.”

Angka Besar, Cerita yang Kecil

Angka 1.882 terdengar masif. Namun di baliknya, ada ribuan kisah personal—tentang keluarga yang ditinggalkan sementara, anak-anak yang menunggu kabar, dan orang tua yang berharap perubahan.

Bagi sebagian napi, pemindahan ini berarti jarak yang makin jauh dari kampung halaman. Kunjungan keluarga menjadi lebih jarang, komunikasi terasa lebih terbatas. Di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai kesempatan untuk menjalani masa pidana dengan lebih tertib dan fokus pada pembinaan.

“Berat, tapi kami harus kuat,” ujar salah satu keluarga napi yang enggan disebutkan namanya. Kalimat itu melayang pelan, nyaris tenggelam di tengah hiruk-pikuk dermaga.

Tantangan Sistem Pemasyarakatan

Pemindahan ribuan napi ini juga menyoroti tantangan klasik pemasyarakatan di Indonesia: overkapasitas lapas, keterbatasan sumber daya, dan kebutuhan pembinaan yang semakin kompleks. Nusakambangan menjadi salah satu simpul penting untuk mengurai persoalan tersebut, meski bukan satu-satunya solusi.

Pakar hukum menilai, langkah pemindahan harus dibarengi dengan penguatan pembinaan dan pengawasan berkelanjutan. Tanpa itu, pemindahan hanya akan menjadi perpindahan masalah dari satu tempat ke tempat lain.

Sunyi yang Penuh Makna

Saat kapal terakhir merapat dan gerbang penjara kembali tertutup, suasana Nusakambangan kembali hening. Pulau itu seolah menyerap semua cerita—yang terucap maupun yang dipendam.

Pemindahan 1.882 napi ke Nusakambangan bukan hanya peristiwa administratif. Ia adalah potret bagaimana negara mengelola keadilan: dengan ketegasan, kehati-hatian, dan harapan bahwa di balik hukuman, selalu ada ruang untuk perubahan.

Di pulau sunyi itu, waktu akan terus berjalan—pelan, disiplin, dan tanpa kompromi—sementara ribuan manusia di dalamnya menjalani hari demi hari, menunggu babak baru dalam hidup mereka.