Gunung Semeru Empat Kali Erupsi pada Sabtu, Tinggi Letusan Capai Satu Kilometer

Lumajang, Jawa Timur (initogel) — Pagi di kaki Gunung Semeru kembali diwarnai kepulan abu kelabu yang membumbung ke langit. Pada Sabtu, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat empat kali mengalami erupsi, dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar satu kilometer dari puncak kawah.
Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng Semeru, pemandangan tersebut bukan hal asing. Namun setiap letusan tetap membawa rasa waspada—pengingat bahwa alam terus bergerak dan manusia harus selalu siap.
Letusan Beruntun dalam Sehari
Erupsi terjadi dalam beberapa kali interval, dengan kolom abu teramati berwarna kelabu hingga kehitaman dan condong mengikuti arah angin. Meski tidak disertai dentuman besar, aktivitas tersebut cukup jelas terlihat dari sejumlah titik pengamatan.
“Kalau sudah kelihatan abunya naik tinggi, kami langsung siaga,” ujar Slamet, warga di kawasan lereng Semeru. “Kami sudah tahu apa yang harus dilakukan, tapi tetap tidak boleh lengah.”
Empat kali erupsi dalam sehari menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif, meski berada dalam pola yang terus dipantau secara intensif.
Abu, Pasir, dan Kehidupan Warga
Bagi masyarakat sekitar, abu vulkanik adalah bagian dari keseharian. Atap rumah dibersihkan lebih sering, masker kembali digunakan, dan aktivitas luar ruang disesuaikan. Para petani, yang hidup berdampingan dengan gunung, belajar membaca tanda-tanda alam dari perubahan suara, arah angin, hingga getaran halus di tanah.
“Kalau abunya tipis masih bisa dibersihkan,” kata Ibu Rini, warga lainnya. “Yang penting tidak hujan deras, karena itu yang kami khawatirkan.”
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Material vulkanik yang terbawa hujan berpotensi memicu banjir lahar di alur sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Status dan Kewaspadaan
Aktivitas erupsi Semeru terus berada dalam pemantauan ketat. Warga dan pengunjung diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di zona rawan, terutama di sekitar alur sungai dan kawasan dekat kawah.
Gunung Semeru dikenal sebagai gunung api yang aktif dan memiliki karakter erupsi yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, kewaspadaan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekitar.
“Semeru itu seperti tetangga yang harus dihormati,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat. “Kami hidup berdampingan, tapi selalu menjaga jarak aman.”
Belajar Hidup Berdampingan dengan Gunung
Bagi warga Lumajang dan sekitarnya, erupsi bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga ujian kesiapan. Latihan evakuasi, jalur aman, dan komunikasi antarwarga menjadi modal utama untuk mengurangi risiko.
Anak-anak diajarkan sejak dini apa yang harus dilakukan jika gunung menunjukkan peningkatan aktivitas. Orang tua menyiapkan tas siaga, berisi dokumen penting dan kebutuhan dasar.
“Takut pasti ada,” kata Slamet. “Tapi kami tidak panik. Yang penting siap.”
Menjaga Jarak, Menjaga Keselamatan
Empat kali erupsi dalam sehari dengan tinggi letusan mencapai satu kilometer menjadi pengingat kuat bahwa Semeru masih aktif. Meski aktivitas masih dapat terkendali, potensi bahaya tetap ada jika kewaspadaan menurun.
Pemerintah daerah dan petugas pemantau terus mengimbau masyarakat untuk mengikuti arahan resmi dan tidak terpancing informasi yang belum jelas sumbernya.
Gunung yang Terus Mengajarkan Kewaspadaan
Di bawah langit Lumajang, Semeru kembali menunjukkan denyutnya. Kepulan abu perlahan memudar, namun pesan yang ditinggalkan tetap jelas: alam selalu bergerak, dan manusia harus belajar membaca serta menghormatinya.
Bagi warga sekitar, hidup berdampingan dengan Gunung Semeru adalah tentang keseimbangan—antara bekerja dan berjaga, antara berharap dan bersiap. Karena di setiap letusan, ada satu hal yang selalu dijaga bersama: keselamatan jiwa.