Trump Siap Mediasi Perselisihan Mesir–Ethiopia Terkait Air Sungai Nil

Washington (delapantoto) — Air adalah sumber kehidupan. Namun di Afrika Timur dan Timur Laut, air juga menjadi sumber kecemasan, ketegangan, bahkan potensi konflik lintas negara. Di tengah kebuntuan panjang antara Mesir dan Ethiopia terkait pengelolaan air Sungai Nil, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk memediasi perselisihan yang telah bertahun-tahun membayangi stabilitas kawasan.
Pernyataan ini menghidupkan kembali harapan akan dialog di antara dua negara yang sama-sama menggantungkan masa depan jutaan penduduknya pada aliran sungai terpanjang di dunia itu—Sungai Nil, nadi kehidupan yang tak tergantikan.
Sungai yang Menghidupi, Sekaligus Memisahkan
Bagi Mesir, Sungai Nil bukan sekadar sumber air, melainkan fondasi peradaban. Lebih dari 90 persen kebutuhan air Mesir bergantung pada sungai ini. Setiap perubahan debit air dipandang sebagai ancaman langsung terhadap ketahanan pangan, kesehatan publik, dan stabilitas sosial.
Sementara bagi Ethiopia, pembangunan Bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) adalah simbol kedaulatan dan harapan. Bendungan raksasa ini diyakini mampu mengangkat jutaan warga dari kemiskinan melalui pasokan listrik dan pembangunan ekonomi.
Dua kepentingan yang sama-sama sah, namun saling beririsan di aliran air yang sama—itulah akar persoalan yang membuat negosiasi berjalan berliku.
Mediasi sebagai Jalan Tengah
Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat siap mengambil peran sebagai penengah untuk mendorong dialog yang lebih konstruktif. Bagi Washington, stabilitas kawasan Nil bukan hanya isu regional, tetapi juga menyangkut keamanan internasional dan pencegahan konflik berkepanjangan.
Dalam pendekatan mediasi, peran pihak ketiga sering kali krusial—bukan untuk memaksakan solusi, melainkan membuka ruang kompromi. Di sinilah diplomasi diuji: bagaimana menyeimbangkan hak pembangunan Ethiopia dengan kebutuhan eksistensial Mesir, dalam kerangka hukum internasional yang adil.
Aspek Hukum dan Tata Kelola Air
Perselisihan ini menyinggung prinsip-prinsip penting hukum internasional, terutama terkait pemanfaatan sungai lintas negara secara adil dan wajar. Tidak ada negara yang boleh dirugikan secara signifikan oleh tindakan sepihak negara lain.
Namun hukum tanpa kepercayaan sulit dijalankan. Ketidakselarasan data teknis, perbedaan tafsir perjanjian lama, serta minimnya mekanisme penegakan membuat dialog kerap berakhir buntu. Mediasi internasional diharapkan menjadi jembatan—menghadirkan transparansi, verifikasi bersama, dan komitmen jangka panjang.
Dampak Kemanusiaan yang Nyata
Di luar ruang diplomasi, jutaan warga biasa menanti hasilnya. Petani di delta Nil khawatir sawah mereka mengering. Keluarga di pedesaan Ethiopia berharap listrik menyala lebih stabil. Di kedua sisi, air berarti makan di meja, pekerjaan, dan masa depan anak-anak.
Seorang warga Mesir pernah berkata, “Jika air berkurang, semuanya ikut berkurang.” Kalimat sederhana itu merangkum dimensi kemanusiaan dari sengketa ini—bahwa keputusan politik hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi esok.
Harapan di Tengah Ketegangan
Kesiapan Trump untuk memediasi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Namun ia membuka kembali pintu dialog yang sempat menyempit. Dalam dunia yang semakin rentan terhadap krisis iklim dan kelangkaan sumber daya, sengketa air berpotensi menjadi konflik masa depan—kecuali ditangani dengan kebijaksanaan.
Sungai Nil telah mengalir selama ribuan tahun, melampaui rezim dan batas negara. Tantangannya kini adalah memastikan aliran itu tetap menjadi sumber kehidupan bersama, bukan pemicu perpecahan. Mediasi—siapa pun penengahnya—adalah langkah awal untuk mengembalikan harapan bahwa air bisa menyatukan, bukan memisahkan.