WFA Sebelum dan Setelah Lebaran bagi ASN dan Swasta

Jakarta — Skema Work From Anywhere (WFA) kembali menjadi perhatian menjelang dan setelah Lebaran, baik bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun pegawai swasta. Kebijakan ini dipandang sebagai alat adaptif untuk mengurai kepadatan mobilitas, menjaga kesinambungan layanan, serta memberi ruang kemanusiaan bagi pekerja yang mudik—tanpa mengorbankan produktivitas.
Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menekankan bahwa WFA bersifat pengaturan kerja, bukan libur tambahan. Prinsipnya jelas: pekerjaan berjalan, layanan publik tetap hadir.
Bagaimana WFA Diterapkan?
1) Sebelum Lebaran
Pada fase ini, WFA biasanya fleksibel dan selektif:
-
ASN: Instansi mengatur giliran WFA/WFO (work from office) berbasis fungsi. Layanan esensial (kesehatan, keamanan, transportasi, administrasi vital) tetap on-site.
-
Swasta: Perusahaan menyesuaikan kebutuhan operasional. Divisi yang bisa dikerjakan jarak jauh diberi opsi WFA untuk mengurangi puncak arus mudik dan kemacetan.
Tujuan utama: menekan kepadatan perjalanan H-3 hingga H-1 Lebaran, sambil menjaga target kerja.
2) Setelah Lebaran
WFA pasca-Lebaran umumnya terbatas waktu:
-
ASN: Digunakan untuk transisi balik mudik, memastikan kehadiran bertahap tanpa menurunkan kualitas layanan.
-
Swasta: Disesuaikan dengan ritme bisnis dan kebutuhan klien; fokus pada pemulihan operasional normal.
Kuncinya adalah evaluasi cepat—apakah target tercapai dan layanan tetap responsif.
Keamanan Publik & Layanan Tetap Jalan
Pengaturan WFA dirancang agar keamanan publik tidak terganggu. Instansi dan perusahaan diwajibkan:
-
Menetapkan PIC dan jam respons yang jelas
-
Menjaga SLA layanan (izin, pengaduan, bantuan darurat)
-
Memastikan keamanan data saat kerja jarak jauh
Dengan manajemen yang tepat, WFA justru membantu negara dan dunia usaha beroperasi lebih lincah di masa puncak mobilitas.
Human Interest: Kerja Tetap Jalan, Keluarga Tetap Dekat
Bagi banyak pekerja, WFA memberi ruang bernapas: mudik lebih aman, waktu keluarga lebih utuh, dan stres perjalanan berkurang. Namun disiplin tetap krusial—rapat virtual tepat waktu, target terukur, dan komunikasi terbuka dengan atasan serta tim.
Pengalaman dua tahun terakhir menunjukkan, kepercayaan dan akuntabilitas menjadi fondasi WFA yang berhasil.
Praktik Baik agar WFA Efektif
-
Aturan tertulis & target harian
-
Koordinasi lintas tim (handover jelas untuk layanan publik)
-
Pengukuran kinerja berbasis output, bukan jam duduk
-
Kesiapan infrastruktur digital dan dukungan IT
Penutup
WFA sebelum dan setelah Lebaran adalah alat manajemen, bukan tujuan. Ketika diterapkan proporsional—fleksibel namun tegas—ia membantu mengurai kemacetan, menjaga layanan, dan merawat keseimbangan hidup pekerja.