Sangihe Menolak Lupa: Misteri Kematian Sang Wakil Bupati di Ketinggian 30 Ribu Kaki

Sangihe (LIGA335) — Waktu telah berlalu, namun luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, nama Helmud Hontong, Wakil Bupati yang wafat secara misterius dalam penerbangan dari Bali menuju Makassar, masih sering disebut dengan nada pelan namun penuh tanda tanya. Kematian di ketinggian 30 ribu kaki itu bukan sekadar tragedi, melainkan teka-teki yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.
Bagi masyarakat Sangihe, peristiwa itu bukan masa lalu yang selesai. Ia adalah ingatan kolektif—tentang seorang pemimpin, tentang kejanggalan, dan tentang keadilan yang terasa menggantung di udara.
Penerbangan Terakhir
Pada awal Juni 2021, Helmud Hontong berada dalam penerbangan komersial setelah menjalani tugas dinas. Tak ada laporan kondisi darurat sebelum pesawat mengudara. Namun di tengah penerbangan, Helmud dinyatakan meninggal dunia.
Kabar itu datang seperti petir. Tidak hanya karena ia seorang pejabat publik, tetapi karena kematiannya terjadi secara mendadak di udara, tanpa riwayat sakit serius yang diketahui publik sebelumnya.
Bagi banyak orang di Sangihe, pertanyaan pertama langsung muncul:
Bagaimana mungkin seorang wakil bupati meninggal tiba-tiba dalam penerbangan?
Temuan yang Mengguncang
Kecurigaan publik semakin menguat ketika hasil otopsi mengungkap adanya zat berbahaya dalam tubuh Helmud Hontong. Temuan ini menjadi titik balik yang mengubah narasi dari “kematian alami” menjadi dugaan kematian tidak wajar.
Informasi tersebut menyebar cepat, memicu kegelisahan dan kemarahan warga. Helmud bukan pejabat biasa. Ia dikenal vokal, tegas, dan dalam sejumlah kesempatan disebut menentang kepentingan besar—termasuk isu tambang emas di wilayah Sangihe yang menuai polemik luas.
Apakah kematiannya murni medis, atau ada faktor lain yang belum terungkap?
Bayang-bayang Konflik Kepentingan
Nama Helmud Hontong kerap dikaitkan dengan sikap kritisnya terhadap rencana eksploitasi sumber daya alam di Sangihe. Ia disebut menolak sejumlah kebijakan yang dinilai berpotensi merugikan lingkungan dan masyarakat adat.
Di titik inilah publik mulai mengaitkan sikap politik dan keberanian Helmud dengan kematiannya. Spekulasi berkembang, dari diskusi warung kopi hingga forum akademik:
apakah ada pihak yang merasa terancam oleh sikap sang wakil bupati?
Meski tak pernah ada tuduhan resmi, korelasi antara sikap politik dan waktu kematian terus menghantui ruang publik.
Proses Hukum yang Sunyi
Aparat penegak hukum memang melakukan penyelidikan. Namun bagi keluarga dan masyarakat, proses tersebut terasa berjalan lambat dan minim transparansi. Tidak ada penetapan tersangka, tidak ada pengungkapan motif, dan tidak ada penjelasan tuntas yang mampu menutup pertanyaan publik.
Di sinilah rasa kecewa tumbuh.
Bukan hanya karena misteri belum terpecahkan, tetapi karena keheningan negara terasa terlalu panjang.
“Kalau ini pejabat biasa mungkin sudah dilupakan. Tapi ini wakil bupati kami,” ujar seorang tokoh masyarakat Sangihe.
Sangihe Menolak Lupa
Setiap peringatan kematian Helmud Hontong, doa-doa dipanjatkan. Bukan hanya untuk almarhum, tetapi untuk kebenaran. Spanduk-spanduk kecil, diskusi publik, hingga unggahan media sosial menjadi cara warga menjaga ingatan agar tidak tenggelam.
Bagi masyarakat Sangihe, mengingat Helmud berarti mempertanyakan keadilan. Mereka menolak narasi bahwa waktu bisa menghapus segalanya.
“Kami tidak menuduh, tapi kami ingin tahu,” kata seorang aktivis lingkungan lokal.
“Karena jika ini dibiarkan, siapa lagi yang aman bersuara?”
Pertanyaan yang Masih Menggantung
Hingga kini, pertanyaan-pertanyaan itu masih ada:
-
Apa penyebab pasti kematian Helmud Hontong?
-
Bagaimana zat berbahaya itu bisa masuk ke tubuhnya?
-
Apakah kematiannya berkaitan dengan sikap dan kebijakan yang ia perjuangkan?
-
Mengapa pengungkapan kasus ini berhenti di tengah jalan?
Tanpa jawaban yang jelas, kebenaran tetap berada di ketinggian yang sama dengan tempat ia mengembuskan napas terakhirnya—30 ribu kaki di atas bumi.
Penutup: Ingatan sebagai Bentuk Perlawanan
Sangihe menolak lupa bukan karena dendam, melainkan karena harapan. Harapan bahwa suatu hari, misteri ini akan dibuka dengan terang, tanpa takut dan tanpa kepentingan.
Selama kebenaran belum terungkap, nama Helmud Hontong akan tetap hidup—
bukan hanya sebagai wakil bupati,
tetapi sebagai simbol keberanian yang menantang sunyi kekuasaan.