2 mins read

Platform Digital Diminta Gunakan Sistem Deteksi Usia Berbasis Perilaku

Platform digital diminta gunakan sistem deteksi usia berbasis perilaku

Jakarta — Sejumlah pihak mendorong platform digital untuk mulai menerapkan sistem deteksi usia berbasis perilaku sebagai upaya memperkuat perlindungan anak dan remaja di ruang digital. Pendekatan ini dinilai lebih adaptif dibandingkan metode verifikasi usia konvensional yang hanya mengandalkan unggahan identitas atau pernyataan usia mandiri.

Deteksi usia berbasis perilaku bekerja dengan menganalisis pola interaksi pengguna—seperti cara mengetik, jenis konten yang diakses, waktu penggunaan, hingga respons terhadap fitur tertentu—untuk memperkirakan rentang usia secara dinamis. Sistem ini diharapkan mampu meminimalkan paparan konten yang tidak sesuai usia, tanpa mengorbankan privasi pengguna.


Mengapa Berbasis Perilaku?

Metode verifikasi usia tradisional kerap mudah disiasati, terutama oleh pengguna di bawah umur. Dengan pendekatan berbasis perilaku, platform dapat melakukan penyesuaian perlindungan secara otomatis, misalnya membatasi rekomendasi konten sensitif, menonaktifkan pesan langsung, atau memperketat kontrol iklan.

Pendekatan ini juga dinilai lebih ramah pengguna karena tidak selalu meminta dokumen identitas, sehingga mengurangi risiko kebocoran data pribadi.


Perlindungan Anak sebagai Prioritas

Dorongan penerapan sistem ini berangkat dari meningkatnya waktu layar anak dan remaja, serta kompleksitas konten digital yang beredar. Perlindungan tidak hanya soal pemblokiran, tetapi pencegahan berbasis desain (safety by design)—di mana keselamatan ditanamkan sejak awal dalam arsitektur platform.

Bagi orang tua, sistem ini dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan yang bekerja di belakang layar, melengkapi pengawasan keluarga dan fitur kontrol orang tua.


Tantangan dan Prinsip Etis

Meski menjanjikan, penerapan deteksi usia berbasis perilaku harus mematuhi prinsip transparansi, akurasi, dan perlindungan privasi. Platform diminta memastikan tidak terjadi pelabelan keliru (false positives/negatives) yang dapat merugikan pengguna, serta menyediakan mekanisme keberatan dan koreksi.

Penggunaan data perilaku juga harus dibatasi pada tujuan keselamatan, dengan kebijakan penyimpanan yang ketat dan audit berkala.


Arah Kebijakan dan Kolaborasi

Pengamat menilai keberhasilan penerapan sistem ini memerlukan kolaborasi lintas pihak—platform, regulator, pendidik, dan keluarga. Standar teknis bersama, uji dampak, serta literasi digital publik menjadi kunci agar teknologi perlindungan benar-benar efektif.

Dengan sistem deteksi usia berbasis perilaku, ruang digital diharapkan menjadi lebih aman dan ramah bagi semua usia—memberi kebebasan berekspresi bagi orang dewasa, sekaligus perlindungan nyata bagi anak dan remaja.